Postingan

Sadarkah ( Puisi)

Sadarkah Karya: Dhiya Nafeesa Lembar putih tak lagi seputih dahulu, bukan hitam bukan juga kusam Goresan tinta tak lagi setajam dahulu, disepelekan bahkan tidak diperdulikan Seni yang diukir tak lagi berbentuk, sulit sekali diatur Bukankah seperti itu pendidikan saat ini Sadarlah… Ia merindukan kita Mereka membutuhkan kita Jangan sampai terbawa nikmatnya kekuasaan, melupakan apa yang harusnya ditegakkan Berhentilah mengeluarkan bulir-bulir bening berisi kekecewaan, hanya meratapi dan berdiam diri Ayo.. Kembali rangkul mereka Membentuk kembali yang hampir tak berbentuk Membangun kembali yang hampir tidak diperdulikan

Berharap BIsa Menembus DImensi Yang Berbeda (Puisi)

Berharap Bisa Menembus Dimensi yang Berbeda Karya: Unday Walaupun ketiadaan merupakan sebuah takdir dari sang pencipta Tetapi hati selalu yakin bahwa dirimu ada Meski tak lagi bersama di alam yang sama Tepat hari ini kau lahir ke dunia Ada rasa senang dan sedih menggelora             Gejolak hati meraung merindukan dirimu di surga             Harapan bertemu hanya sebatas mimpi sahaja             Kehilanganmu membuat diriku sadar             Tidak selamanya kehidupan sejalan dengan yang diinginkan             Manusia lahir dan berujung pada kematian Hanya doa dan harapan yang selalu ku panjatkan Untuk dirimu yang selalu kurindukan Ketika waktu berjalan terlampau cepat lantas m...

Bu,Mengapa Aku Berbeda? (Puisi)

Bu, Mengapa Aku Berbeda? Karya : Noviyanti Bu, Orang bilang aku adalah seorang   gadis dungu Seorang gadis tanpa sekali pun menyentuh ilmu Mereka bilang dunguku kian tak terkendalikan Menepi hanya ketika lontaran cacian yang ditinggikan Berbalik hanya ketika pundak yang di sapa Bu, Orang bilang aku adalah seorang gadis bisu Seorang gadis tanpa suara jika mengadu Mereka bilang bisuku sungguh menyulitkan Menyahut hanya dengan anggukan dan gelengan Konyolnya hanya dapat melemparkan senyuman dan tangisan Bu, Orang bilang aku adalah seorang gadis buta Berjalan ditemani tongkat sebagai mata Mereka bilang butaku sangat merugikan Tanpa sadar langkahku mengayun menghancurkan barang kesayangan Bahkan kadang menabrak dinding dan memecahkan kaca Bu, Padahal aku ingin seperti mereka Memahami penjumlahan dua tambah tiga Mengutarakan sahutan meski sekedar ungkapan ‘ya’ Memandang jalanan agar tiada sesat kaki melangkah Tapi bukankah i...

Kiwari (Puisi)

Kiwari Karya : Anavaa Sunda nu dicinta Ngebréhkeun rasa nu taya hartina Euweuh nu disangkal deui Nonoman kur saukur jentul na Boa aya nu apal hartina astana Meureun pikirna wangunan megah jeung emas eusi na Boa aya nu apal hartina waruga Pikirna kur nepi ka warung jajanan ala Korea Réngkak paripolah Siga anu enya Padahal otak taya eusi na Kekinian caritana Basa indung jadi korbanna                                                                                                             Tasikmalaya, 27 Desember 2019

Sesuatu (puisi)

SESUATU karya : Starla Ku sadar Banyak kotor dalam jiwaku Banyak najis dalam badanku Ku tidak suci Ku ingin Ingin kembali kejalanmu Tuhan Apakah manusia kotor ini masih diterima olehmu ? Tingkah laku yang masih seperti bajingan Dan tutur kata yang sering tak sopan Tapi ku tak segan Untuk memohon ampunan Starla. Tasikmalaya, 26 Desember 2019

Siapa Aku (Puisi)

Karya: IchaOcus Terkikis sunyi menuai ironi Derai air mata tak mampu mengurai Kisah pilu yang membelenggu Dalam pusaran waktuku termangu Ketika raga tak berjiwa Tersemat belati dalam asa Menggoreskan tanda tanya Pada tinta yang terus menerka Oh, bebal Percuma aku datang lebih dulu Jika kian jauh aku meramu Kian sukar menyokong nestapa Keping prasangka nian pelik Ketika keraguan bermuara pada diriku Dalam labirinku memekik Siapa sebenarnya aku Kutatap diriku dalam nanar Lihat, diriku menjadi sangar Lihat, bayanganku mengagahku Kupikir kini aku bukan lagi aku

Menuju yang Dituju

Karya: Rillion  Berjalan pelan meski tak bisa berlari, sambil menghitung jejak yang pernah dilalui. Ternyata, ada masa lalu yang tertinggal. Ingin kuputar arah, tapi enggan mengundang masalah. Aku terdiam, berpikir walaupun sebagian otakku habis dimakan masa. Aku masih berpijak di atas tanah. Menghitung setiap butir debu yang membuatku bisu. Tidak ada yang baik-baik saja di sini, pun yang di sana pasti sedang mengharapkan yang terbaik. Aku berusaha menghentikan yang telah berakhir. Mencoba melangkahkan kaki dengan memupuk rasa ingin kembali. Tidak berat ternyata, kaki ini melangkah. Termasuk hati kian melepas dari ketidak hati-hatian. Sudah saatnya langkah ini menuju yang dituju, dan itu adalah kamu. Belum usai perjalanan ini. Ada kalanya yang datang silih berganti. Pilihannya, ingin bertahan atau ditahan? Jika bertahan karena ber-Tuhan sudah semestinya dipertahankan. Tetapi, jika ingin ditahan karena menahan, sudah pasti batang yang besar akan terkalahkan oleh ranting yang terti...