Postingan

Quots

Gambar

Sastra Itu... (Kata Mutiara)

1. Untuk terbang itu tak perlu sayap yang indah, cukup sayap yang mampu mengepak bersamaan. (Kayla larasati) 2. Tak perlu memahami hikayat- hikayat cinta hingga berbusa, cukup memahami sastra , kau mampu mengubah dunia (Jingga widuri) 3. Satu per satu huruf merekat menjadi susunan kata indah dalam sastra merasuk ke setiap jiwa insan nan suci (Chandra Kirana) 4. Cinta adalah ketika sebuah kata mampu menghidupkan jiwa yang mati menjadi hidup kembali(RA.Kianuraini) 5. Tulisan ku ini menjadi saksi kerinduan yang terpendam ( Yisd) 6. Sastra bukan hanya soal bahasa namun lebih dalam daripada itu. Sastra bukan hanya tentang kata namun lebih bermakna daripada itu. Jika kau tak setuju,aku tak perduli (Dhiya nafeesa) 7. Biarkan sastra menendangmu dari khayalan, daripada kenyataan menendangmu keluar dari sastra. (Lice) 8. Sisipkan ejaan kata yang merasuk jiwa ke dalam muara sastra. (Bryele) 9. Waktu sudah gemetar, mengapa hanya diam? Mari bergabung bersama kami. (Masam) 10. Den...

Antara (Puisi)

A.T Dia bilang hujan takan turun hari ini Karena awan telah berdamai dengan hati Serta rintiknya bersembunyi Tetapi kau bilang langit berhianat lagi Mendungpun tengah bergelut tanpa henti Hingga rintiknya tengah menuju bumi Kini aku bingung sendiri Nestapa tak tahu pasti Ketika pikiranku terjebak ilusi Dia datang menggenggam secorong es krim menggugah hati Dan kau? Berjalan santai membawa secangkir kopi Ahh, bingung menyergapku kembali Aku seperti dalam jeruji besi Menatap dua pasang kaki menghampiri Ampun, jangan buat aku tak enak hati

Untukmu Aksara (Puisi)

Nur Septiani Wulandari Kulihat bayangan indah dalam rembulan Menari nari di atas awan putih yang hitam Menarik ego dalam pikiranku tuk mengikuti denyutan suara gendang dan kecapi Membawa gerak tubuh ini tuk bersandiwara Satu langkah jemari kaki beranjak dari tidurku Memasuki ruang kosong tanpa harapan Ku buka pintu pertama dalam gelap tanpa lilin Ku melihat serangkaian kata-kata indah dalam balutan sastra Lilin datang menghampiri suara risauku Ku buka pintu kedua dengan sedikit cahaya Ku mendengar alunan suara lembut dalam sukmaku Datanglah sebuah panggung sandiwara Sebuah jawaban dalam pertanyaan-pertanyaan nyeleneh Kulihat dengan seksama kata demi kata yang terucap dalam bahasa tubuh Sepasang tangan yang tiba tiba menggenggamku dalam gelap Membuatku terbelalak dan berlinang air mata Ia membawaku masuk lebih dalam menuju gerbang tinta Mencampuri pikiran dan hati dengan sebuah kata Mengiringi hari-hari dengan dunia khayalan dalam bacaan Mengajak menuju gerbang keag...

Tentang Jer di Balkon Tenggara (Puisi)

Oleh : Dewi Hardianti Hingga uban kering ditampar angin Ia setia meringkuk di papiliun Menyaksikan mawar berhamburan Membagi balutan dan sayatan Ingin sekali ia meloncat pada Jer di sana Apa daya dalamnya pincang hingga buta semua orang Merengek sekian abad menunggu disentuh hingga jasad Sampai kelelawar tertidur di malam kelam Melambai pada kuda yang berlari kecang Ia menanti pengembalian yang tak kelar Tetap mengejar wajar yang tiada di bayar Ia ketinggalan Ia tak kelihatan Jer menari dengan tetangga Berpesta di balkon tenggara Sedang ia bersenandung di neraka Tasikmalaya, April 2016

Suara Hati (Puisi)

Karya: Indah Ratnasari Bukalah mata hatimu Berkacalah pada wajah di depanmu Yang terluka penuh nestapa Buka telinga hatimu Tuk mendengar suara-suara disekelilingmu Yang ingin bercerita tentang hilangnya hati manusia Gelap dunia ini semakin gelap Hati manusia tak dapat bicara Tertutup mega-mega kuasa Buka mata hatimu Buka mata jiwamu Buka telinga hatimu Buka suara hatimu Buka suara telinga hatimu

Untuk Anandaku di masa depan (Puisi)

Anandaku, Ini separuh jiwamu dimasa lalu Ini rupa yang kau anggap maling di masamu. Ini rupa yang kau anggap serakah di masamu. Maaf ...... Maaf, Nak! Uyut paham, Sejuta kata maaf tak kan pernah terbayar Kebahagiaan dimasa depan kami renggut Uyut serakah, Nak! Sibatu hitam telah kami bakar habis, Cairan bau busuk namun mudah kami habiskan demi menunggangi si lambo, Binatang binatang menjadi santapan begitu lezat, Pabrik pabrik udara kami potong habis, Habis, habis, habis, Nak! Sengsara..... zamanmu sengsara nak, Pom cairan busuk zamanmu sepi dari keramaian. Kini, Kamu naik onta lagi. Miris, Nak! Sadar.... Kini, Uyut jaga alam Esok, Kutitipkan alam padamu dan Kutitipkan kamu pada Sang pencipta alam semesta                                              (Elis Nurul Huda, 22 September 2017)